MUNGUNGKAP CERITA LEGENDA DUSUN WIDORO DESA BENDUNG KECAMATAN SEMIN GUNUNGKIDUL

23 Juni 2019 10:56:12 WIB

Widorokandang / WIDORO adalah Nama Dusun yang berada kelurahan Bendung  di kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Di kelurahan Bendung terdapat Pedukuhan Dawe, Dringo, Garotan, Banyukendil, Widoro Lor, Widoro Kidul, Pencil, Gobeh dan Bendung.

Dusun Widoro pada tahun 1999 Terjadi pemekaran wilayah yaiyu widorokidul dan widorolor

Di wilayah dusun ini terdapat situs-situs sejarah dalam cerita pewayangan dan semua situs tersebut masih ada keberadaannyan; yaitu :

 

  1. Makan Eyang Sagopo dan Nyi Sagopi yang berada di Dusun Widoro
  2. Sumur Tompak yang berada di Dusun Pencil perbatasan dengan dusun widoro yang kono cerita sumur tersebut salah satu tempat mandinya putri nyi sagopi yaitu Roro Ireng
  3. Adanya Situs Sumur Cerak yang berada di Dusun Widoro
  4. Sumur Nggumun yang berada di Dusun Widoro
  5. Dung Ndandang yang berada di Dusun Widoro
  6. Dung Bebek yang berada di Dusun Widoro
  7. Sumur Kenteng yang berada di Dusun Widoro
  8. Pundung Watu Gilang yang berada di Dusun Pencil perbatasan dengan dusun widoro
  9. Kowen Kongso tempat memandikan Ayam jago berada di Dusun Widoro
  10. Dan banyak situs-situs bersejarah yang belum terungkap

 

Dusun Widoro tepatnya di perbukitan Kemoro, Watu Togog dan Watu Jejer terdapat tambang Mangaan yang pada tahun 1970 an pernah dilakukan penambangan. Jalan yang menghubungkan antar dusun telah beraspal mulus hasil dari swadaya masyarakat.  

Menurut mitos legenda Dusun WIDORO / widorokandang Menurut legenda, di kademangan / pertapaan / Ds. Widorokandang/ WIDORO inilah ketiga bersaudara putra dari Prabu Basudewo raja Manduro dititipkan / dibesarkan oleh Demang Antiyogopa yaitu :

  1. Kokrosono ( Bolodewo )
  2. Noroyono ( Kresno )
  3. Roro Ireng ( Sembodro )

 

ANTAGOPA adalah anak Buyut Gupala, kepala daerah kebuyutan Widara/Widarakandang (Jawa) yang masuk ke dalam wilayah negara Mandura. Ketika itu raja Mandura adalah Prabu Basukunti. 

Antagopa memiliki sikap hidup sederhana, setia, jujur dan patuh pada perintah. Ia seorang lelaki yang tidak bisa memiliki keturunan. Dengan hati ikhlas dan senang ia mendapat triman ‘hadiah isteri dari raja’. Triman ini biasanya seorang yang pernah menjadi pacar atau selir raja. Dia bersedia mengawini Ken Sagopi atas perintah Prabu Basudewa, walau ia tahu  Ken Sagopi adalah isteri simpanan Raja dan juga dua pangeran Mandura, yaitu  Prabu Basudewa, Arya Prabu Rukma dan Arya Ugrasena. Atas keikhlasannya itu, Antagopa mendapat kedudukan sebagai demang di Widarakandang.

KEN SAGOPI / SAGUPI yang waktu mudanya bernama Yasuda, adalah seorang swarawati keraton Mandura. Selain suaranya sangat merdu. Ia berwajah cantik dan merakati/menarik hati. Sikap dan polahnya serba luwes, sabar dan memiliki tabiat senang menyenangkan hati orang lain.

Dengan hati ikhlas, Ken Sagupi menerima keputusan Prabu Basudewa untuk dinikahkan dengan Antagopa, perjaka tua yang tidak bisa punya keturunan, anak Buyut Gupala pemelihara kebuyutan Widarakanda/Widarakandang. Secara tidak resmi, Ken Sagupi diperistri oleh tiga orang satria Mandura, yaitu kakak beradik, Arya Basudewa, Arya prabu Rukma dan Arya Ugrasena. Dari hubungan suami-isteri itu, Ken Sagupi memperoleh empat orang putra. Dengan Arya Basudewa ia berputra Arya Udawa, dengan Arya Prabu Rukma berputra Dewi Rarasati/larasati, sedang dengan Arya Ugrasena, Ken Sagupi berputra dua orang, Arya Pragota dan Arya Adimanggala.

Selain pandai mengurus dan mengatur rumah tangga, Ken Sagupi juga pandai mengasuh dan mendidik anak. Karena itu ia dipercaya mengasuh Kakrasana, Narayana dan Dewi Sumbadra, putra-putri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Mahendra dan Dewi Badrahini.

Ken Sagupi hidup bahagia sampai hari tua. Ia disayang dan sangat dihormati oleh putra-putri asuhnya yang semuanya menjadi orang-orang terhormat. Karena kesetiaan menyimpan rahasia, Antagopa berhasil menutupi affair antara Ken Sagopi istrinya dengan Raja dan petinggi Mandura. Hasil hubungan gelap mereka diakuinya sebagai putra-putrinya sendiri. Arya Udawa adalah putra  Sagopi dengan Prabu Basudewa.  Dewi Rarasati adalah  putri Ken Sagopi dengan Arya Prabu Rukma serta Arya Pragota dan Arya Adimanggala adalah hasil hubungan gelap isterinya dengan Arya Ugrasena. Ia juga dipercaya menyembunyikan dan mengasuh Kakrasana, Narayana dan Dewi Sumbadra, putra-putri Prabu Basudewa dari permaisuri Dewi Mahendra dan Dewi Madrahini. Sejak kecil mereka disembunyikan di Widarakandang. Mereka diberlakukan seperti anak desa. Setiap hari Kakrasana diajari bertani dan bercocok tanam. Narayana disuruh menggembala. Rara Ireng diajari sebagaimana gadis desa memasak dan kepandaian putri,  Rara Ireng adalah puteri Prabu Basudewa, seorang puteri titisan Dewi Sri, dewa perempuan imbangan Hyang Wisnu. Sesudah dewasa Rara Ireng bernama Dewi Wara Sumbadra, yang terhitung bangsa bidadari, hingga ada kata perhitungan bahasa Jawa: Seketi (sepuluh laksa) kurang sawiji (kurang satu), yang merupakan perhitungan jumlah bidadari di Kahyangan, satu kekurangan itu menjadi lengkap dengan adanya Sumbadra, jadi benarlah Sumbadrasebangsa bidadari.Ia bersuamikan Raden Arjuna, dan berputera seorang laki-laki bernama Raden Angkawijaya. Inilah keturunan Pandawa yang tak berkeputusan memancarkan laki-laki. Menurut riwayat, Rara Ireng seorang yang aneh. Waktu ia masih kanak-kanak rupanya jelek, berkulit hitam dan berambut jarang kemerah-merahan, karena itulah ia bernama Rara Ireng yang berarti hitam. Tetapi segala kejelekannya itu berangsur-angsur berubah, sehingga Rara Ireng akhirnya menjelma menjadi seorang putri yang secantik-cantiknya.Dalam cerita, Rara Ireng dikatakan tidak begitu cantik, tetapi ketika ia berkumpul dengan putri-putri yang tersohor cantiknya, Rara Ireng lah yang terlihat paling cantik. Rara Ireng seorang putri yang sangat sabar, kalau datang marahnya ia hanya menampakan senyuman yang manis. Konon cerita Roro Ireng selalu mandi di Sumur Tompak yang keberadaanya sekarang di dusun pencil Desa Bendung Semin. Sehingga sampai menjelang dewasa, para pangeran itu selamat dari ancaman Kangsa.nPada masa tuanya Antagopa dan Ken Sagupi/Nyai Sagopi hidup bahagia. Semua anak asuhnya menjadi orang yang terhormat. Dan di akhir hayatnya Ken Sagupo dan Nyi sagopi di makamkan di dusun Widoro yang keberadaan makan sekarang masih ada. Di jaman dahulu banyak penziarah dari jawa tengah dan jawa timur ke Makam tersebut, akan tetapi ada pemahaman warga setempat di anggap suatu kemusrikan, akhirnya makan tersebut batu Nisannya di harcurkan, dan keberadaan makam tersebut tidak terawat.

 

Komentar atas MUNGUNGKAP CERITA LEGENDA DUSUN WIDORO DESA BENDUNG KECAMATAN SEMIN GUNUNGKIDUL

Administrator 05 Maret 2020 14:53:50 WIB
Terimakasih sportnya Pk Saryanta, Selalu mohon doĆ” dan bantuannya. Kami seluruh perangkat desa Bendung selalu berusaha yang terbaik bagi Desa Bendung.
saryanta 03 Maret 2020 10:11:48 WIB
Luar biasa. Terus telusuri, sehingga kebenaran itu menjadi sempurna. Jayalah Bendung Selamanya. Terimakasih untuk Semua Perangkat Desa Bendung. Maju Terus Pak DIDIK!!!!!

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

Facebook

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung