TRADISI MALAM SELIKURAN

Eka Puji Suryanti, S.Akun 15 Juni 2017 21:59:17 WIB

Bendung ( SID ) Malam selikuran adalah salah satu tradisi orang jawa. Biasanya orang jawa melaksanakan atau memperingati tradisi tersebut pada 21 Ramadhan atau lebih dikenal dengan sebutan malam Lailatul Qadar dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir  bulan Ramadan. Adapun Makna Malam selikuran adalah keyakinan adanya misteri anugerah Allah SWT yang turun di malam Lailatul qadar. Masyarakat Jawa memperingati “Selikuran” dengan acara kenduri bersama-sama .Di dalam tradisi kenduri ini terdapat beberapa nilai positif yang bisa kita ambil hikmahnya diantaranya Silaturahmi dan Bersedekah, Makanan yang telah disiapkan dari rumah dikumpulkan jadi satu tempat baru diberikan sebagai ta’jil.

 

Tradisi malam selikuran masih  dilakukan masyarakat Bendung terutama Padukuhan Banyukendil, Garotan dan Dawe. Memaknai budaya malam selikuran sebaiknya masyarakat Bendung tidaklah menjadikan penilaian yang negatif karena malam selikuran sendiri merupakan tradisi budaya dan agama yang mempunyai sejarah dan kental dengan makna. Sebagai masyarakat desa yang majemuk dalam hal keberagaman keagamaan sebaiknya harus saling toleransi satu dengan yang lain dan menjadikannya alat pemersatu keanekaragaman agama.

 

Oleh Eka Puji Suryanti ( Sekretaris Desa )

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Kode Keamanan
Komentar
 

Pencarian

Komentar Terkini

Media Sosial

Facebook

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Pengunjung